Pesantren Imam M Shofi

Rencana Pengembangan Perangkat Lunak

Februari 22, 2008 · 1 Komentar

Sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya, saya (secara bertahap) akan menampilkan/mengulas mengenai proses-preses dalam SDLC lengkap dengan contoh dokumentasinya. Kebetulan setelah saya cek, ada dokumentasi yang pernah saya buat (beserta tim tentunya) yang sifatnya bukan rahasia (confidential)  yang menurut saya bisa dijadikan contoh bacaan/pelajaran. Pada kesempatan awal ini, saya ingin menjelaskan dulu tentang Rencana Pengembangan Perangkat Lunak (RPPL).

RPPL atau dalam bahasa inggrisnya adalah Software Development Plan (SDP) merupakan hal awal yang harus dilakukan ketika akan mengembangkan suatu perangkat lunak. Hal-hal yang bisa dijelaskan/dilakukan dalam RPPL adalah:

  1. Gambaran umum proyek/sistem (System Overview)
  2. Rencana Manajemen Pengembangan Perangkat Lunak (Software Development Management)
  3. Rencana Teknis Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering)
  4. Rencana Pengujian Perangkat Lunak (Formal Qualification Testing)
  5. Rencana Evaluasi Produk Perangkat Lunak (Software Product Evaluation)
  6. Rencana Manajemen Konfigurasi (Software Configuration Management)

Contoh dokumen SDP dapat diklik pada link berikut Software Development Plan.

Kategori: Software Engineering · Teknologi Informatika

Masalah Finansial/keinginan/kebutuhan dalam rumah tangga

Februari 22, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dulu ketika awal-awal tahun masa pernikahan, gaji (penghasilan) sang suami yang Rp. 1 juta itu menjadi masalah dalam keluarga. Sang suami merasa bahwa penghasilan tersebut sudah cukup untuk keluarga sekelas mereka bahkan juga harus disisihkan untuk zakat infaq dan shodaqah juga karena telah cukup lumayan melewati nishabnya, sedangkan sang istri merasa penghasilan tersebut pas-pasan dan cenderung kurang. Sang istri berandai-andai : coba ya..penghasilan kita bisa Rp.1.5jt atau lebih, kan bisa beli ini, beli itu, buat ini, buat itu, dll. Sang suami : ya..semoga ya sayang..

Ketika beberapa tahun kemudian sang suami mendapatkan promosi di kantornya & penghasilannya bertambah menjadi Rp. 1.5jt. Sang suami merasa alhamdulillah, semoga bisa menutupi kekurangan-kekurangan yang ada, sedangkan sang istri merasa penghasilan tersebut masih kurang memenuhi kebutuhan keluarga. Kan sekarang-sekarang ini kebutuhan mulai banyak, kebutuhannya jelas beda dengan dulu, pergaulan juga berbeda. Sang istri berandai-andai : coba ya Mas..penghasilannya bisa lebih banyak lagi, setidaknya Rp. 2.5jt lah..kan bisa buat ini, itu, dll.., sang suami : ya..semoga ya sayangku..

Beberapa tahun kemudian, sang suami mendapat promosi lagi, sehingga penghasilannya menjadi Rp. 2.5jt. Sang suami : alhamdulillah akhirnya penghasilan bertambah juga, semoga dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan sang istri tetap saja merasa kurang untuk memenuhi kebutuhan. Kan sekarang ada anak, nambah lagi anaknya hehe..perlu ini, perlu itu..biaya hidup juga mulai pada naik. Istri berandai-andai: coba gajinya bisa lebih lagi ya..bisa 3.5jt gitu lho Mas.., kan tawaran kerja diluar banyak tuh..dari pada disini gaji pas-pasan begini.. Suami : ya..diusahakan ya..semoga bisa terwujud..

Akhirnya sang suami memutuskan keluar kerja menerima tawaran kerja dengan salary yang lebih besar lagi. Ehem..penghasilan suami kemudian menjadi 3.5jt sesuai harapan. Setelah menikmati beberapa saat, lagi-lagi sang istri masih merasa pas-pasan. Kan sekarang ada cicilan ini, cicilan itu, buat ini buat itu, dll. “Coba aja penghasilannya bisa 5jt atau bahkan lebih, kan bisa beli ini beli itu, buat ini itu, dll.”

Tidak lama kemudian, sang suami mendapat promosi di kantor baru, penghasilannya menjadi 6jt bahkan ada penghasilan tambahan shg 7jt lebih. “Alhamdulillah…kesampaian juga..” kata suami. Setelah beberapa lama menikmati, sang istri kembali merasa ada pas-pasan & kurang aja buat mencukupi kebutuhan. “Anaknya kan banyak, buat cicilan ini itu, cicilan CC juga banyak tuh..” katanya. “coba deh..di posisi kamu spt ini, di tempat lain itu salarynya jauh lebih gede. kan banyak tawaran kerja tuh..gajinya juga jauh tuh dari yang skrg, 3x lipat lagi, kenapa sih gak diambil aja..”, dll. dll.

Akhirnya sang suami punya penghasilan lumayan juga yang lebih dari itu. Yang sebelumnya keluarga menikamati 6jt-an tiap bulan, sekarang-sekarang bisa menjadi 15jt-an. “Wow..sangat cukup untuk keluarga sekelas kita ya..” suami lagi-lagi merasa begitu. Tetapi kenyataanya, penghasilan tersebut tetap habis/dihabiskan saja dalam sebulan, padahal rencananya, bisa buat nabung masa depan si anak A, B, bahkan sampai D. Sang istri : ya..gimana lagi ya..sekarang kan kebutuhannya beda.

====

Dari cerita itu, memang kalau menuruti keinginan (lebih sebagai keinginan dan bukan kebutuhan kalau saya melihatnya), tidak akan habis-habisnya keinginan manusia itu. Makanya perlu syukur dan keikhlasan dari hati manusia tersebut agar hidupnya lebih seimbang dan bahagia.

Kategori: Keagamaan · Pendidikan · Personal
Ditandai: , , , ,