Seringkali kita (baca: Pengembang Software/Sistem) dihadapkan pada kondisi dimana si calon/pemberi Kerja meminta kita untuk membuat sistem/software dalam jangka waktu yang sangat mendesak bahkan cenderung “impossible to do it“. Ironisnya lagi, kadang-kadang hal seperti ini juga terjadi pada lembaga/institusi yang erat sekali hubungannya dengan pengembangan software (perangkat lunak) itu sendiri yang konon lebih faham dan lebih melek Software Engineering Process (SEP) maupun Teknologi Informatika & Komputer (TIK) dibanding masyarakat/pengguna umumnya.
Seringkali saya diskusi dengan teman-teman pengembang perangkat lunak yang seringkali menerima kasus semacam ini. Seolah-olah para pengembang itu dianggap orang yang sangat sakti/super hero, dll yang dapat menyelesaikan semua hal dalam sekejap. Dalam candaan kami bilang: kita Superman apa?, atau kita Sangkuriang apa ya? dll. Kalau dalam CMM (Capability Maturity Model), kondisi semacam ini pantas masuk dalam level 1 (yang memang mangandalkan Hero
). Kalau kondisi seperti dibiarkan terus, kapan ya kita bisa masuk CMM level 5?
Sepertinya memang Masyarakat kita itu masih berorientasi pada produk tanpa memperdulikan proses didalamnya. Padahal antara produk & proses semestinya berkorelasi sebanding, maksudnya jika prosesnya bagus sudah barang tentu akan menghasilkan produk yang bagus juga atau setidaknya lebih mendekati bagus. Bisa jadi juga produk yang “kelihatannya” bagus, tetapi karena dikembangkan dengan proses yang asal-asalan (asal jadi dll), sebenarnya sangat amburadul, dll.
Untuk itu, marilah kita mengedukasi diri kita, masyarakat sekeliling kita, terutama masyarakat yang erat sekali hubungannya dengan TIK (ICT) itu sendiri untuk lebih memahami Software/System Engineering Process ini, termasuk didalamnya standarisasi SPE itu.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Tinggalkan Komentar