Masalah Finansial/keinginan/kebutuhan dalam rumah tangga

Dulu ketika awal-awal tahun masa pernikahan, gaji (penghasilan) sang suami yang Rp. 1 juta itu menjadi masalah dalam keluarga. Sang suami merasa bahwa penghasilan tersebut sudah cukup untuk keluarga sekelas mereka bahkan juga harus disisihkan untuk zakat infaq dan shodaqah juga karena telah cukup lumayan melewati nishabnya, sedangkan sang istri merasa penghasilan tersebut pas-pasan dan cenderung kurang. Sang istri berandai-andai : coba ya..penghasilan kita bisa Rp.1.5jt atau lebih, kan bisa beli ini, beli itu, buat ini, buat itu, dll. Sang suami : ya..semoga ya sayang..

Ketika beberapa tahun kemudian sang suami mendapatkan promosi di kantornya & penghasilannya bertambah menjadi Rp. 1.5jt. Sang suami merasa alhamdulillah, semoga bisa menutupi kekurangan-kekurangan yang ada, sedangkan sang istri merasa penghasilan tersebut masih kurang memenuhi kebutuhan keluarga. Kan sekarang-sekarang ini kebutuhan mulai banyak, kebutuhannya jelas beda dengan dulu, pergaulan juga berbeda. Sang istri berandai-andai : coba ya Mas..penghasilannya bisa lebih banyak lagi, setidaknya Rp. 2.5jt lah..kan bisa buat ini, itu, dll.., sang suami : ya..semoga ya sayangku..

Beberapa tahun kemudian, sang suami mendapat promosi lagi, sehingga penghasilannya menjadi Rp. 2.5jt. Sang suami : alhamdulillah akhirnya penghasilan bertambah juga, semoga dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan sang istri tetap saja merasa kurang untuk memenuhi kebutuhan. Kan sekarang ada anak, nambah lagi anaknya hehe..perlu ini, perlu itu..biaya hidup juga mulai pada naik. Istri berandai-andai: coba gajinya bisa lebih lagi ya..bisa 3.5jt gitu lho Mas.., kan tawaran kerja diluar banyak tuh..dari pada disini gaji pas-pasan begini.. Suami : ya..diusahakan ya..semoga bisa terwujud..

Akhirnya sang suami memutuskan keluar kerja menerima tawaran kerja dengan salary yang lebih besar lagi. Ehem..penghasilan suami kemudian menjadi 3.5jt sesuai harapan. Setelah menikmati beberapa saat, lagi-lagi sang istri masih merasa pas-pasan. Kan sekarang ada cicilan ini, cicilan itu, buat ini buat itu, dll. “Coba aja penghasilannya bisa 5jt atau bahkan lebih, kan bisa beli ini beli itu, buat ini itu, dll.”

Tidak lama kemudian, sang suami mendapat promosi di kantor baru, penghasilannya menjadi 6jt bahkan ada penghasilan tambahan shg 7jt lebih. “Alhamdulillah…kesampaian juga..” kata suami. Setelah beberapa lama menikmati, sang istri kembali merasa ada pas-pasan & kurang aja buat mencukupi kebutuhan. “Anaknya kan banyak, buat cicilan ini itu, cicilan CC juga banyak tuh..” katanya. “coba deh..di posisi kamu spt ini, di tempat lain itu salarynya jauh lebih gede. kan banyak tawaran kerja tuh..gajinya juga jauh tuh dari yang skrg, 3x lipat lagi, kenapa sih gak diambil aja..”, dll. dll.

Akhirnya sang suami punya penghasilan lumayan juga yang lebih dari itu. Yang sebelumnya keluarga menikamati 6jt-an tiap bulan, sekarang-sekarang bisa menjadi 15jt-an. “Wow..sangat cukup untuk keluarga sekelas kita ya..” suami lagi-lagi merasa begitu. Tetapi kenyataanya, penghasilan tersebut tetap habis/dihabiskan saja dalam sebulan, padahal rencananya, bisa buat nabung masa depan si anak A, B, bahkan sampai D. Sang istri : ya..gimana lagi ya..sekarang kan kebutuhannya beda.

====

Dari cerita itu, memang kalau menuruti keinginan (lebih sebagai keinginan dan bukan kebutuhan kalau saya melihatnya), tidak akan habis-habisnya keinginan manusia itu. Makanya perlu syukur dan keikhlasan dari hati manusia tersebut agar hidupnya lebih seimbang dan bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s