Mg ke-4 Kampung Belajar : Tanggung jawab & ta’arruf

Sebagaimana biasa, kegiatan kampung belajar dimulai dengan sholat subuh berjama’ah. Pada minggu ke-4 kegiatan kampung belajar ini, diikuti oleh kurang lebih 100 jama’ah dengan jumlah anak-anak ada 53 anak.

Tausiah kali ini diisi oleh Ust. Abu Hurairah yang menjelaskan tentang tanggung jawab. Mula-mula disampaikan bahwa kebaikan yang dilakukan seseorang itu akan mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah 10x lipat atau bisa 700x lipat atau bahkan lebih. Salahsatunya (mungkin) beliau mengambil acuan QS Albaqarah 261 berikut:

Al-baqarah 261

Kemudian beliau menjelaskan (dengan mengacu Hadits) bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin, seorang perempuan adalah pemimpin, seorang suami adalah pemimpin, seorang istri adalah pemimpin, seorang hamba sahaya adalah pemimpin.

(saya rasa) Hadits yang dimaksud adalah Hadits riwayat Ibnu Umar r.a berikut (Terjemahan saya ambil dari Albayan, thanks to Pak Jono yang membantu instlall AlBayan) :

Hadits 1084

“1084 Hadis Ibnu Umar r.a: Diriwayatkan daripada Nabi s.a.w katanya: Baginda telah bersabda: Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin. Seorang pemerintah adalah pemimpin manusia dan dia akan bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi ahli keluarganya dan dia akan bertanggungjawab terhadap mereka. Manakala seorang isteri adalah pemimpin rumah tangga, suami dan anak-anaknya, dia akan bertanggungjawab terhadap mereka. Seorang hamba adalah penjaga harta tuannya dan dia juga akan bertanggungjawab terhadap jagaannya. Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin dan akan bertanggungjawab terhadap apa yang kamu pimpin“.

Kemudian pak Abu memberi contoh-contoh tentang bentuk tanggungjawab, diantara meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jangan sampai tiap mencari sesuatu kita kebingungan sehingga membutuhkan waktu yang lama. Misalnya kita akan memotong kuku, kemudian mencari gunting kuku itu sampai 10 s/d15menit (misalnya), itu baru satu hal, bagaimana jika dalam sehari kita mencari sesuatu itu sampai 10 or 15 barang, berapa banyak waktu yang terbuang dalam sehari itu? berapa juga jika dalam 1 bulan, 1 tahun, dst.

Setelah Tausiah, kemudian anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok, dimana tiap kelompok ada 2 or 3 orang pembina/pamong. Tujuannya adalah untuk mengekplor lebih jauh mengenai tanggungjawab tersebut & implementasinya dalam kehidupan sehari-hari bagi anak.

Acaranya berikutnya adalah permainan lempar bola dalam rangka ta’arruf, agar antar anak/santri saling mengenal satu sama lain. Santri diminta membuat formasi lingkaran & pembina berada ditengahnya sambil membawa bola (ukuran bola tenis). Pembina melempar bola tersebut ke salah seorang santri, santri yang menerima lemparan bola kemudian memerkenalkan diri (nama, alamat, idola, dll). Setelah semua kebagian lemparan bola (telah memperkenalkan diri), kemudian pembina menunjuk salah seorang santri untuk berada ditengah, santri tsb kemudian melemparkan bola ke teman-teman yang telah dikenalnya, semakin banyak kenalannya maka semakin dapat penghargaan dari pembina.

Acara berikutnya adalah sarapan/makan pagi dengan hidangan sederhana bervariasi & bergizi yang telah disediakan oleh ibu-ibu kompleks/kampung tentunya🙂. Akhirnya serangkaian kegiatan Subuh berjama’ah selesai sekitar jam 07:30.

Kegiatan berikutnya, acara rutin pengajian/diskusi orangtua (bapak-bapak & ibu-ibu) ba’da maghrib. Sebenarnya yang mengisi/memberikan materi kali ini adalah jadwalnya ust. Ridwan, tetapi karena beliau berhalangan hadir maka diganti oleh ust. Abu Hurairah. Berikut sedikit ringkasan yang disampaikan (seingat saya tentunya, maklum sudah beberapa hari yl, baru sempat edit lagi🙂 ). Kalau tidak salah, materi yang disampaikan beliau untuk pengajian orangtua ini mengacu pada kitab “Nashaihul Ibad”.

Beliau menyampaikan dengan mengutip dari kitab tsb bahwa tidak ada hal yang lebih baik dari 2 hal berikut, yaitu: iman kepada Allah, dan bermanfaat bagi sesama muslim. Ini menegaskan bahwa iman itu harus diimplementasikan dengan amal, begitu juga sebaliknya amal harus dilandasi dengan iman.

Jika seseorang mengaku beriman tetapi tidak ada bukti berupa amal, maka iman itu palsu. Dicontohkan bahwa iblis itu merupakan makhluk yang percaya adanya Allah, karena iblis itu pernah berdialog dengan Allah (sudah barang tentu, dia percaya adanya Allah. bahkan kepercayaan iblisakan adanyanya bisa jadi melebihi kita). Tetapi iblis tidak membrikan bukti berupa amal sholeh.

Demikian juga sebaliknya, jika seseorang dalam hidupnya banyak/selalu memberi manfaat kepada orang lain tetapi tidak dilandasi dengan iman, maka itu sebagaimana fatamorgana.

“Kasihanilah orang-orang di bumi, niscaya akan mengasihani kamu orang-orang di langit”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s