Manajemen Ikhtilaf, bukan Manajemen Konflik

Ketika masa-masa OSPEK & Kemah Bakti di awal-awal masuk kuliah, dikondisikan sedemikian rupa sehingga kita menjadi bangga serta membanggakan diri dan cinta setengah mati dengan kelompok/jurusan kita. Seolah-olah kita/kelompok kita yang paling hebat, saling ejek antar satu kelompok dengan kelompok lain, dll. Kemudian dikondisikan juga sedemikian rupa sehingga terjadi perpecahan/konflik diantara kelompok bahkan sering kali emosi kita dibuat sedemikian rupa sehingga bisa terjadi adu fisik demi mempertahankan kelompok kita.

Belakangan-belakangan kita tahu bahwa itu merupakan salah satu implementasi dari “Manajemen Konflik”. Biasanya 1 or 2 orang (khusus tentunya) dalam kelompok tertentu yang membuat strategi dimana seolah-olah nantinya dibuat konflik antar kelompok. Konflik itu sebenarnya sengaja diciptakan oleh sekelompok kecil pembuat strategi, dimana sekelompok besar yg lainnya tidak mengetahui tentang skenario tersebut. Konon katanya tujuannya untuk menumbuhkan semangat kebersamaan diantara mereka.

Memang gampang saja bagi ahli-ahli strategi tertentu untuk menyulut konflik diantara kita karena benih-benih perbedaan itu secara alamiah akan ada diantara kita. Tetapi jika konflik sudah terjadi kadang menjadi susah untuk dikendalikan(dikontrol) bahkan cenderung “gampang meluas.

Saya sendiri kurang begitu setuju dengan “Manajemen Konflik” sebagaimana pengertian diatas. Konflik bukannya diselesaikan kok diciptakan??? terlalu banyak resiko jika konflik/perpecahan itu sengaja diciptakan. Kerusuhan Mei 1998, akibat Manajemen Konflik kah? kalau benar, betapa hina & rendahnya mereka dengan mengorbankan ribuan rakyat yang tidak berdosa.

Secara alamiah (sunnatullah), kita pasti mempunyai perbedaan : perbedaan fisik, warna kulit, cara berpikir, dll. Terutama pada perbedaan cara berpikir/mensikapi terhadap suatu hal, di ilmu fiqih ada yang namanya “Ikhtilaf”/perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat inilah yang semestinya dikelola/dimanaj agar tidak menjadi perpecahan/konflik. Masing-masing yang punya pendapat tidak perlu bangga/membanggakan diri, merasa pendapatnya yang paling benar dan cenderung menganggap remeh dan menyalahkan pendapat orang lain. Pada umumnya perbedaan pendapat masalah fiqih itu menyangkut hal yang sifatnya furu’ (cabang) dan bukan merupakan asas.

Dalam hal sholat saja, banyak sekali ikhtilaf disitu: mulai dengan takbiratul ikhram (ada bermacam-macam pandangan disana), menjahar/sirri kan basmalah, bacaan iftitah/ ruku’/sujud/dll, duduk istirahat (duduk sejenak setelah sujud kedua pada rakaat ganjil), mengangkat tangan &/ membasuh muka ketika/selesai berdoa, dll.dll banyak sekali.

Semestinya kita menyikapi semua itu merupakan perbedaan pendapat yang wajar saja yang sifatnya justru variatif sehingga dapat menambah wawasan kita. Tidak perlu dibesar-besarkan dan jika didiskusikan adalah dengan niat mencari kebenaran & bukan membanggakan pendapat sendiri. Sehingga sesuatu yang sifatnya ikhtilaf itu tidak akan bermuara menjadi perpecahan/konflik, sehingga persatuan tetap terjaga. Hal seperti ini juga dapat diimplementasikan untuk perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di masyarakat. Utamakanlah persatuan umat bukan perpecahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s