Solusi Jitu Menyelesaikan Perselisihan

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak jarang kita dihadapkan kepada “perselisihan” (pendapat) diantara orang-orang / kelompok / komponen2 masyarakat dalam rangka ingin mencapai tujuan tertentu. Baik itu kehidupan di masyarakat kampung tempat kita tinggal (tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten / Kota, Propinsi, bahkan tingkat negara), kehidupan di masyarakat kampus (tingkat Prodi, Fakultas, Universitas), kehidupan di organisasi kemasyarakatan, dll. Tidak terkecuali, sangat memungkinkan terjadinya perselisihan di suatu masjid / yayasan yang menaungi masjid atau yayasan / organisasi keagamaan lainnya. Tidak jarang juga, karena ego masing-masing orang / kelompok yang berselisih, akhirnya menimbulkan “perpecahan” umat. Masing-masing ingin berperan, padahal ternyata masing-masing memiliki tujuan yang sama (misal: sama2 ingin untuk kemaslahatan bersama/umat, sama2 ingin membuat organisasi tsb lebih berkembang/maju, & kesamaan2 lainnya).

Jika masing-masing kelompok/komponen yang saling berselisih (pendapat) itu sebenarnya memiliki tujuan (goals) yang sama, maka kita dapat mencontoh apa yang dilakukan Rasul Allah ketika terjadi perselisihan renovasi Ka’bah pada masa itu. Dikisahkan bahwa setelah didirikan Nabi Ibrahim, Ka’bah pernah direnovasi, diantaranya pada masa Muhammad yang ketika itu berumur 35 tahun (belum diangkat menjadi Rasul). Ketika itu, komponen-komponen masyarakat (yg terkenal dg istilah kabilah-kabilah) sepakat untuk membangun kembali/merenovasi Ka’bah yang bbrp komponennya sempat roboh karena musibah banjir yang melanda kota itu. Di awal2 pembangunan/renovasi, mereka saling bergotong royong ingin segera menyelesaikannya. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap akhir, yakni prosesi peletakan kembali batu Hajar Aswad, mulailah terjadi perselisihan/percekcokan tentang siapa / komponen masyarakat mana yang berhak melakukannya. Banyak pendapat bermunculan dan saling simpang siur, masing-masing saling ingin mengedepankan kelompoknya sendiri. Suasana semakin memanas setelah Bani Abdud Durar dan Syam membawa baskom berisi darah. Baskom darah merupakan simbol bahwa mereka akan mengerjakan sesuatu hingga titik darah penghabisan. Suasana genting tersebut berlangsung selama kurang lebih 5 hari.Ka'bahPada saat kaum Quraisy tsb berselisih pendapat tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat semua, segolongan dari mereka berpendapat untuk mencari seorang penengah. Kemudian mereka sepakat bahwa yang berhak menjadi penengah adalah orang yang pertama kali keluar dari salah satu jalan di kota Makkah. Sesaat kemudian, tiba-tiba yang muncul pertama kali adalah Muhammad. Mereka pun lalu berkata, “Lihatlah, kita telah kedatangan orang yang sangat bisa dipercaya (Al-Amin)”. Pada masa itu, memang Muhammad terkenal sebagai orang yang sangat bisa dipercaya. Mereka menyampaikan kesepakatan yang telah mereka buat kepada Muhammad. Nah, disinilah kecerdasan, kearifan, dan akhlak mulia Muhammad terlihat. Beliau tidak egois dengan meletakkan hajar aswad sendirian, meskipun beliau berhak dengan kesepakatan yang telah dibuat. Beliau memilih untuk menyatukan komponen2 masyarakat / kabilah-kabilah yang hampir terpecah tersebut dengan memberikan peran kepada kelompok2 yang berselisih tersebut. Muhammad bangkit dan meletakkan Hajar Aswad di atas sebuah kain panjang. Setelah itu, Beliau meminta seluruh kepala/perwakilan kabilah untuk bersama-sama mengangkat Hajar Aswad ke tempat semula. Terlihat para kepala/perwakilan masing-masing kabilah memegang tepi kain tersebut. Kemudian mereka berjalan menuju ke dekat Ka’bah, lalu mereka berhenti. Muhammad kemudian mengambil Hajar Aswad dengan kedua tangannya serta meletakkannya kembali ke tempatnya.

Hmmm… sudah paham kan maksudnya? Kita dapat mengambil hikmah dan teladan dari kisah tersebut ketika terjadi perselisihan diantara kita / komponen2 masyarakat kita:

  1. Utamakan persatuan & kesatuan umat.
  2. Tidak perlu egois ingin menguasai & tampil sendiri.
  3. Berilah peran yang proporsional kepada semua perwakilan/komponen2 yang ada. Bukan malah ingin dikuasai oleh komponen/kelompok sendiri & menyingkirkan kelompok/komponen lainnya, atau memberi peran yang kurang proporsional.
  4. Jika menyangkut, posisi/jabatan/kedudukan, janganlah berebut. Utamakan musyawarah dengan kesepakatan bersama

Mari kita utamakan persatuan & kesatuan diantara kita, tinggalkan sesuatu yang dapat membuat jurang perbedaan diantara kita semakin besar. Semoga semua komponen masyarakat kita semakin dewasa & mengedepankan akhlak yang mulia diantara kita.

Salam,

Imam MS

Keterangan:

gambar kartun diambil dari https://kartunmedan.wordpress.com/2008/04/30/rebutan-kursi/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s